Memulai Kembali



Menulis bagi saya sama maknanya dengan mengurai perasaan. Di hari-hari yang berjalan dengan ritme yang begitu-begitu saja terkadang membuat saya tersesat karena bosan: ini apa? saya harus bagaimana? apakah ini benar? apakah ini salah? mengapa saya sedih? apakah saya sudah bahagia? dan banyak pertanyaan sederhana yang sulit saya jawab pada akhirnya.

Menulis adalah cara bercerita saya kepada diri saya sendiri. Ketika saya menulis, sering saya menyadari apa yang sebenarnya sedang saya alami, saya rasakan dan saya pelajari. Saya rasa, tidak akan ada manusia yang akan lebih jujur kepada diri ini selain  diri kita sendiri. Maka alih-alih berusaha menjelaskan kepada orang lain siapa diri ini, ada baiknya kita menjelaskan kepada diri kita sendiri: tentang apa yang kita alami, tetang apa yang membuat kita sedih, tentang apa yang sebenarnya kita inginkan, tentang bagaimana kita ingin mengisi kehidupan.

Saya mulai jurnaling ketika kuliah, saya mempunyai blog berisi semua cerita lucu, sedih, putus asa dan bahagia  saat itu (kalian yang berminat membacanya bisa search keyword: dongenglangit annisa rahmah). Saat itu, menulis seperti rutinitas yang cukup membantu saya melewati masa-masa kuliah yang penuh rasa dan warna saat jauh dari orang tua.

Terkadang, tulisan-tulisan yang saya buat saya baca kembali. Saya ingat-ingat perasaan saat saya menulisnya. Sering saya tersenyum, menyadari bahwa soal kehidupan, pada akhirnnya tentang bagaimana kita melewatinya. Bahagiamu itu sementara. Sedihmu sementara. Kebersamaanmu sementara. Kesendirianmu sementara. Semua hanya seperti diorama yang sedang diputar. Dari awal dan akhirnya selesai. 

Semakin tua semakin banyak berjumpa dengan ragam tingkah dan perangai manusia. Ada yang menyenangkan, ada yang memuakan. Ada yang paham balas budi, ada yang suka melunjak minta hati. Ada yang sedikit berbicara namun penuh makna. Ada yang panjang bercerita tapi entah isinya apa. Ya begitulah manusia, sejatinya memang tidak ada yang sempurna, pun saya. Tapi setidaknya, dengan bertemu macam-macam manusia dari kutub utara dan kutub selatan ini, membuat kita paham bahwa selalu ada dua sisi dan dua perspektif yang berbeda. Tak bisa disamaratakan. Tak pula bisa dibahagiakan sekalian. Jadi saya paham, ketika mengambil keputusan, pertimbangan terpentingnya adalah apa yang saya anggap benar, bukan apa yang membuat orang lain senang. Lagi-lagi pada akhirnya bagaimana saya memahami diri saya sendiri agar bulat mendukung segala keputusan yang saya ambil. 

Iya, rutinitas ini terkadang terasa membosankan. Tapi selalu akan ada cerita-cerita yang walaupun sederhana bisa kita maknai dan dibagi bersama. Maka saya memulai menulis kembali... untuk saya, dan untuk siapapun yang berkenan hadir membacanya.


 


Comments

Popular Posts