Monodialog tentang Kecewa




Manusia-manusia yang saya temui dalam perjalan pulang selalu membuat seseorang di dalam diri ini bertanya, "jika kamu diberikan pilihan untuk menukar hidup, apakah kamu mau menukarnya dengan mereka?"

Saat saya melihat lelaki paruh baya sedang menarik gerobak, pertanyaan itu muncul di kepala  "jika kamu diberikan pilihan untuk menukar hidup, apakah kamu mau menukarnya dengan mereka?", jawab saya "tidak".

Saat saya melihat ibu dan anak-anaknya berbagi nasi bungkus di pinggir jalan, pertanyaan itu muncul di kepala  "jika kamu diberikan pilihan untuk menukar hidup, apakah kamu mau menukarnya dengan mereka?", jawab saya "tidak".

Saat saya melihat badut lusuh menari di depan mini market, pertanyaan itu muncul di kepala  "jika kamu diberikan pilihan untuk menukar hidup, apakah kamu mau menukarnya dengan mereka?", jawab saya "tidak".

Sepanjang perjalanan pulang banyak terlihat wajah-wajah lelah terburu-buru untuk pulang. Saat kendaraan berhenti di lampu merah sebuah artikel di instagram sedang mengulas harga "outfit " selebriti Indonesia yang harga tasnya saja sama dengan seluruh tabungan yang saya punya. Dan pertanyaan itu muncul di kepala  "jika kamu diberikan pilihan untuk menukar hidup, apakah kamu mau menukarnya dengan mereka?"


jawaban saya tetap "tidak"


Lalu dia berkata lagi, "lantas apa yang kamu sedihkan? apa yang membuat kamu merasa kurang? apa yang membuatmu merasa tidak baik-baik saja?"

Tuhan memberikan lebih dan kurang bukan sekedar perihal kuantitas. Ada yang sedikit namun selalu terasa cukup. Ada yang banyak namun selalu terasa kurang. Ada yang pintar tapi terus merasa bodoh. Ada yang bodoh tapi terus merasa pintar. Ada yang selalu di tengah keramaian namun merasa sepi di hati. Ada yang di tengah keheningan namun merasa ramai di kepalanya. Ada yang terlihat  kuat namun ternyata rapuh. Ada yang terlihat lemah namun ternyata kokoh. Ini bukan konsep yang harus dipahami, ini adalah realita yang sering dilupakan. 


Saya menjawab, mengapa manusia selalu bertanya "apa yang perlu kamu sedihkan?", sedangkan kita tahu, kesedihan adalah perasaan yang manandakan bahwa kita adalah manusia. Kesedihan adalah kewajaran. Tidak selalu hari-hari terlewatkan dengan menyenangkan. Tidak semua hal-hal dirayakan dengan senyum dan gelak tawa--terkadang menangis adalah cara terbaik merayakan hal-hal suka cita maupun duka cita.


Beberapa waktu belakangan ini saya sebagai manusia merasakan yang namanya kesedihan: kecewa, kesal, marah dan segala perasaan yang tidak menyenangkan. Dan saya memilih untuk menerima kesedihan itu, menangis kalau perlu, dan memberikan tenggat waktu kepada diri sendiri kapan kesedihan ini perlu dikompromikan sehingga diri ini bisa "sembuh" kembali, menata kembali keimanan bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik di saat hambanya melakukan yang terbaik. 


Maka, tidak perlu kita menanyakan apa yang kita sedihkan, tapi pikirkan apa yang bisa saya lakukan agar kesedihan ini segera menghilang. Kecewa dengan keadaan bukan selalu berarti tidak bersyukur dengan rejeki yang sudah diberikan, tapi mungkin itu pertanda bahwa kita adalah manusia yang memang memiliki keterbatasan untuk tidak bisa selalu baik-baik saja. 


Jadi, ya sedih saja. Akui saja kecewanya. Berdoa saja agar semua segera kembali pada semula.









Comments