Kaum Mendang Mending
Menjadi kaum mendang-mending itu bisa karena beberapa alasan. Alasan pertama adalah karena keadaan. Alasan kedua adalah karena pilihan. Atau bisa jadi alasannya adalah gabungan dari alasan pertama dan alasan kedua.
Alkisah seorang anak tumbuh dari keluarga yang berkecukupan; tidak lebih, tapi cukup. Kedua orang tua anak ini sama-sama bekerja. Sang anak dan orangtuanya hanya bisa bercengkrama di malam hari dan di akhir pekan. Walaupun begitu, sang anak tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian orang tuanya. Namun berbeda dengan perasaan orang tuanya, ada rasa bersalah ketika sang orang tua tidak bisa mendampingi anaknya di saat-saat penting. Salah satu cara orang tua mengurangi rasa bersalahnya adalah dengan berusaha memenuhi kebutuhan dan kemauan anak-anaknya.
Sang anak tumbuh dengan fasilitas yang cukup. Tidak hanya kebutuhan, keinginan merekapun terpenuhi. Mereka diperbolehkan membeli sepatu dan tas yang mereka mau. Mereka diperbolehkan membeli buku bacaan setiap minggu, dan banyak hal yang bisa mereka minta kepada orang tuanya.
Singkat cerita, masuklah sang anak ke salah satu SMA Negeri di Jakarta. Dia bertemu dan berteman dengan anak-anak yang berasal dari latar belakang keluarga dan ekonomi berbeda. Sampai suatu hari, sang anak bersama teman-temannya berencana untuk takziah ke salah satu teman sekolah yang saat itu bapaknya meninggal. Mereka menaiki angkot dari depan sekolah, disambung dengan metromini yang berdesakan. Akhirnya, sampailah mereka di depan rumah temannya yang sedang berduka itu, dan sang anak tertegun melihat rumah temannya itu.
Sebuah rumah sangat sederhana dengan lampu remang. Dia memasuki rumah temannya, hatinya mulai terasa tidak nyaman. Ia mulai membandingkan dengan semua bagian rumahnya. Ruang tamunya, kamar mandinya, kamar tidurnya, dan dapurnya. Semuanya membuat iya berbisik dalam hati: "Ya Allah... ternyata selama ini saya kurang bersyukur".
Selama perjalanan pulang anak ini tertegun, isi kepalanya terasa penuh, entah kenapa iya rindu sekali dengan rumahnya dan orang tuanya.
Waktupun berlalu, sang anak kemudian melanjutkan kuliah di kota kelahiran ayahnya. Iya sempat terkejut karena beberapa teman seangkatannya membawa mobil keluaran terbaru. Bahkan ada saatnya dia tidak paham saat ikut menguping obrolan teman-temannya yang membahas tentang tas-tas branded yang harganya setara dengan uang sakunya sebulan.
Tapi, Allah Maha Baik. Selama kuliah, sang anak dipertemukan dengan teman-teman yang baik. Teman-teman yang mengajarkan kesederhanaan dan ketulusan. Teman-teman yang beberapa berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang, namun punya semangat bekajar yang tinggi. Dan juga ia memiliki teman-teman yang berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lebih tinggi darinya, namun mempunyai gaya hidup yang sangat sederhana. Sang anak belajar: Orang kaya sesungguhnya tidak perlu berusaha memperlihatkan dan menceritakan kekayaannya kepada orang lain- mereka tidak pernah memerlukan validasi. Di lain sisi, sang anak juga belajar: Orang pintar dan tekun tidak perlu malu dengan kondisi ekonominya, karena mereka sadar, value seseorang bukan dilihat dari latar belakang keluarga atau tingkat ekonomi, tapi dari attitude, kecerdasan dan ketekunan.
Pun sang anak bertemu dengan para pengajar dosen yang luar biasa membuka wawasannya, yang mengajarkan bahwa beberapa manusia lahir dengan keberuntungan dari yang lainnya. Dan manusia yang beruntung ini memiliki tanggungjawab terhadap manusia yang kurang beruntung lainnya.
Jika kamu diberi keberuntungan untuk duduk di bangku kuliah, maka belajarlah bersungguh-sungguh. Karena bisa jadi, di luar sana ada anak yang lebih pintar dan tekun dari dirimu tapi tidak seberuntung dirimu untuk bisa duduk di bangku kuliah.
Jika kamu diberi keberuntungan dengan fasilitas dan koneksi yang cukup untuk bekerja di lingkungan pemerintahan atau di perusahaan orang tuamu, maka bekerjalah dengan sungguh-sungguh, bekerjalah dengan jujur, bekerjalah tanpa serakah, karena di luar sana ada anak yang tanpa fasilitas dan koneksitas keluarga, yang harus membawa beban lebih berat dari dirimu.
Hidup adalah tentang kompensasi keberuntungan-keberuntungan yang kita miliki, untuk membantu orang-orang yang kesempatannya diambil oleh dirimu yang lebih beruntung.
Sang anak tumbuh dengan pemahaman-pemahaman baru dalam hidupnya. Selalu tertanam di benaknya, bahwa atas semua yang ia capai dan ia miliki, ada kompensasi yang harus ia bayar kepada lingkungannya dalam bentuk kebaikan yang lainnya.
Ketika ia ingin membeli minuman seharga 45rb 1 cup nya, dia akan berhitung, kalau 45rb ini dia belikan dengan minuman lain yang ia beli dari pedagang keliling, ia bisa mendapatkan 4 cup dan 5rb ekstra untuk penjualnya.
Ketika ia ingin membeli jilbab seharga 200rb/pcs nya, dia akan berhitung, kalau 200rb itu dia belikan di paket sembako, dia bisa mendapatkan 2 paket sembako lengkap yang bisa jadi bahan makan 2 keluarga untuk paling tidak 2 hari. Dia akan terus berhitung, di mana dia harus menghabiskan uangnya yang tidak seberapa itu agar lebih banyak orang yang merasakan bahagia.
Dia tidak selalu bangga ketika menggunakan barang mahal, tapi dia bahagia ketika menggunakan barang dengan harga terjangkau namun memberikan kesempatan dia untuk memberi kepada yang lainnya. Dia paham, uangnya saat ini terbatas. Ada tanggungjawab dan kebutuhan yang harus ditunaikan, namun ada tanggungjawab membayar "kompensasi" yang ia tanamkan untuk kehidupannya agar lebih seimbang.


Comments
Post a Comment